Berhenti Merokok, Mengapa Tidak?

Berhenti Merokok

sumber : inet

Saya kebetulan bukan perokok, jadi mohon maaf jika memang artikel ini seperti saya tulis dari satu sisi. Tetapi jangan khawatir, saya mencoba untuk netral selama menyajikannya.

Kalian sepertinya sudah tahu, bahwa jumlah perokok di negeri tercinta ini berjumlah hingga 58.750.592 orang berdasarkan data terakhir Riset Kesehatan Dasar 2013. Semua itu merupakan perokok aktif usia 10 tahun ke atas (National Geographic). Ini artinya sekitar 1/4 dari jumlah penduduk di negara ini. Bahkan dengan hal yang membanggakan bahwa jumlah tersebut menjadi rekor yang menunjukkan Indonesia sebagai negara yang memiliki perokok aktif nomor satu di dunia.

Kalian tahu? Itulah yang menyebabkan bahwa salah satu pengusaha rokok menjadi yang terkaya nomor satu di Indonesia.

Mengapa saya menulis artikel ini, semata-mata hanyalah ingin berbagi informasi dari pandangan-pandangan, dan pengalaman-pengalaman pribadi.


  • Latar belakang saya tulis artikel ini

Sampah, Sumpah! Saya merasa sangat terganggu ketika ada orang yang merokok dengan alasan di ruang terbuka (padahal cuma ada jendela saja), lalu asapnya bukan keluar jendela namun justru tertiup angin dan mengeroyok wajah saya sepenuhnya. Jelas saya merasa sangat sebal.

Kejadian itu tidak hanya terjadi sekali dua kali. Dan sepertinya para perokok sudah tidak mempedulikan akan hal ini lagi, di mana mungkin saya aman jika saya berkata, empati perokok menjadi sedikit terkikis karena hal tersebut.

Jika itu semua belum cukup, saya punya pertanyaan untuk para pembaca, “Dimanakah para perokok membuang puntung rokoknya?”

“Cabang iman yang tertinggi adalah ucapan Laa Ilaaha Illallaah dan cabang iman yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah bagian dari iman.” (HR.Muslim)

Lalu bagaimana pendapat kalian jika melihat para perokok yang membuat puntung rokoknya sembarangan di jalan dan dalam keadaan masih menyala? Apa kabar kira-kira imannya?


  • Kecanduan rokok itu rasanya seperti apa?

Saya tidak berteman dengan perokok. Itu prinsip saya. Namun awalnya beberapa teman saya juga perokok cuma alhamdulillah sekarang sudah tidak lagi karena saya motivasi. Ketika saya mencoba berbicara dengannya tentang apa yang membuatnya sulit berhenti merokok, maka saya memberikan analogi berikut.

Hari ini sangat banyak orang yang sulit sekali terlepas dari jaringan internet. Saya juga, mungkin kalian juga. Mungkin suatu bencana jika satu hari kalian tidak terhubung dengan internet.

Teman saya setuju dengan analogi tersebut, karena sifat adiktif rokok membuatnya selalu memiliki keinginan untuk tetap merokok.


  • Jika rokok itu baik…

Ini ada sebuah kisah, jika kalian sudah pernah tahu mengenai kisah ini, dapat diabaikan :

Guru : Syeikh, menurut saya rokok itu tidak haram.
Syeikh : kenapa?
Guru : (tak ada dalilnya) Saya ingin tahu, satu ayat saja yang menyebutkan ‘diharamkan atas kalian rokok’.

Syeikh : Apakah Anda makan jeruk, apel, maupun pisang?
Guru : Iya.
Syeikh : Apakah ada ayat yang menyebutkan bahwa jeruk, apel maupun pisang itu halal?
Guru : Tidak ada.
Syeikh : Bagaimana tidak ada, bagaimana Al Qur’an tidak menyebutkan mana yang halal dan mana yang haram, padahal Qur’an itu pedoman umat. Coba perhatikan firman Allah Ta’ala dalam surat al-A’raf : (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk. (QS. Al-A’raf: 157)
Maka segala yang baik semisal daging, jeruk, apel, susu, ddan sebagainya itu termasuk yang baik-baik sehingga termasuk yang dihalalkan. Adapun yang buruk-buruk, maka Allah mengharamkannya.

Guru : Menurut kami, rokok itu termasuk thayyibaat (yang baik-baik), meskipun menurut Anda tidak baik.
Syeikh : Anda punya istri?
Guru : Ya.
Syeikh : Anda punya anak?
Guru : Ya.

Syeikh : Jika kau lihat anakmu mengunyah permen, apakah kamu ridha?
Guru : Ya, tidak masalah.
Syeikh : Jika kau lihat anakmu sedang menghisap rokok, apakah kamu ridha?
Guru : Tidak
Syeikh : Mengapa?
Guru : Karena itu tidak baik (yakni termasuk sesuatu yang buruk).
Syeikh : Jika itu sesuatu buruk, bukankah masuk yg haram? Bagaimana pula jika yang merokok itu istrimu?

Tiba-tiba sang guru mengeluarkan bungkusan rokok dari sakunya, ia meremas degan tangannya lalu menginjak dengan kakinya, lalu ia berkata “Mulai sekarang wahai Syeikh, saya bertaubat kepada Allah dari rokok.”

Yang uniknya, jika rokok itu baik, mengapa rambu-rambu larangan rokok tersebar di mana-mana?


  • You can! You are amazing to stop smoking

Seorang penumpang pernah berbicara kepada saya bahwa dulunya dia adalah seorang perokok. Cuma dia berhenti karena tidak enak melihat orang lain mengibas-kibaskan tangannya di depan mukanya. Saya terkagum, saya pun bertanya bagaimana dia bisa berhenti.

Jawabannya simpel, cukup dengan mengunyah permen ketika dia ingin merokok. Sekarang dia benar-benar sembuh total dari rokok.


  • Lari marathon, lomba mencuri start

Lagi-lagi ada humor umum mengenai rokok, jika kalian sudah pernah dengar (saya yakin kebanyakan sudah), maka silakan diabaikan :

BP = Bukan Perokok, PR = Perokok. Mereka berbincang di dalam sebuah bus kota.

BP : Sehari habis berapa batang rokok mas?
PR : Biasanya sih 2 bungkus.
BP : Sebungkus harganya berapa mas?
PR : Rp10.000,00.
BP : Mas sudah berapa tahun ngerokok?
PR : Kurang lebih 20 tahun.

BP : Begini saya kasih gambaran, 1 bungkus harganya 10ribu, satu hari mas habis 2 bungkus, jadi 20.000. Kalo satu bulan jadi 20.000 x 30 = 600.000. Jadi kalo satu tahun berarti 600.000 x 12 = 7.200.000. Kalo anda udah 20 taun ngerokok berarti 7.200.000 x 20 = 144.000.000. Wah seharusnya kalo mas gak merokok sudah bisa beli mobil tuh!

PR : Saya juga kasih gambaran.
BP : Silakan.
PR : Mas perokok atau tidak?
BP : Tidak. Itu haram bagi saya
PR : Lalu mengapa kamu naik bus? Mobilmu mana???
BP : $#^@X!!?+==D@^-*(%) (nelen bungkus rokok)

Terlepas dari humor tersebut, saya menabung sebanyak yang perokok keluarkan dalam satu hari. Ketika saya mengemukakan hal ini kepada teman-teman saya yang perokok, mereka sepertinya sudah paham humor tersebut dan menanyakan apa yang telah saya dapat. Apakah itu kendaraan, atau rumah (hah? Rumah?).

Saya katakan belum, namun setidaknya karena saya tinggal di indekos, saya tidak pernah khawatir tidak dapat membayar kos setiap bulannya. Ada ‘itu’. Dan uang yang saya kumpulkan masih surplus di mana saya gunakan sebagai uang darurat jika ada sesuatu yang mendadak diperlukan. Bayangkan setiap bulan terkumpul Rp600.000,00. Dan memang itulah yang saya jalani setiap bulannya.

Apakah ini yang dinamakan saya mencuri start dari para perokok? Teman saya pun berhenti merokok.


  • Kesimpulan

Teman saya pernah meminta saya mentraktirnya di sebuah warung makan. Kemudian saya goda, “Untuk beli rokok kamu ada, mengapa untuk bayar kebutuhan primer kamu meminta?”

Berhenti merokok juga harus karena tekad, buktinya saya memiliki banyak kumpulan kisah dari mereka yang sekarang hidupnya lebih sedikit sejahtera karena telah berhenti merokok.

Kalian kapan? Hehe…

—<(Wallaahu A’lam Bishshawaab)>—

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Apa tema yang kalian inginkan untuk postingan baru saya selanjutnya?

    Terima kasih atas pilihannya, Anandastoon akan terus berusaha memenuhi keinginan para pembaca yang tercinta. :)